From Sacramento with Love. Salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus. Terima kasih telah mengunjungi website kami ini. Semoga apa yang kami dapat bagikan melalui website dapat menghibur juga membangun. Visit us back soon. Dan jangan lupa kunjungi juga 360.yahoo.com/gpdisacramento. Tuhan memberkati. Sacramento terletak di central California sebagai ibukota California, 80 miles utara San Francisco.
Kami turut berduka cita mendengar berita berpulangnya Pdt. D.A. supit, Rektor Sekolah Tinggi Alkitab Bandar Lampung dan Gembala Sidang GPdI Bandar Lampung ke rumah Bapa di Surga beberapa waktu lalu. Kesan yang Om Daance tinggalkan bagi kami lewat kedekatan keluarga Om Daan dan keluarga Senduk adalah kesan yang indah dan menguatkan sebagai hamba Kristus yang selalu dalam pertolongan Tuhan seperti banyak kesaksian yang Om Daan pernah bagikan.
Terima kasih juga buat perhatian Om Daan bagi hamba-hamba Tuhan muda sebagaimana pengalaman kami bersama beberapa teman yang semuanya masih muda-muda baru keluar sekolah Alkitab, kami berjuang di daerah transmigrasi Lampung, Om telah menerima kami dan menjamu kami dengan tulus hati sambil terus bersaksi membagikan pengalaman-pengalaman Om dalam bendang Tuhan yang walau tidak selalu menyenangkan tetapi selalu indah dan manis karena bersama Yesus. Terima kasih bahkan karena Om tidak hanya menerima kami waktu itu tetapi juga melayani kami, padahal saya tidak memperkenalkan diri saya sedari awal sebagai anak dari sahabat yang Om Daan kenal dekat, yang mana memberi kesan buat kami Om Daan menerima kami tulus apa adanya bukan karena siapa kami.
Berikut adalah salah satu tulisan Pdt. D.A. Supit yang telah dimuat di gpdiworld.
Kamu Adalah Garam Dunia
Matius 5:13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”.
Ketika saya membuka American Ensiklopedi, saya mencoba meneliti tentang “garam”. Namun saya kebingungan karena pengertian tentang garam itu begitu banyak, ratusan arti. Garam adalah mineral dasar (base mine). Sudah tentu pula garam merupakan sesuatu yang sangat penting di dunia ini. Saya kemudian mengerti, mengapa Yesus mengatakan gereja Tuhan sebagai “garam dan terang” karena sebenarnya di dunia ini cuma ada dua sumber, yaitu yang badani adalah garam dan yang rohani adalah terang. Marilah kita melihat beberapa kegunaan garam yang tertulis dalam Alkitab.
GARAM SEBAGAI KEBUTUHAN EKONOMI. Garam yang kita kenal sebagai benda yang asing tentu dibutuhkan dalam tubuh manusia. Terutama dalam bidang ekonomi yaitu yang menyangkut makanan. Dalam Ayub 6:6 dikatakan: “Dapatkah makanan tawar dimakan tanpa garam atau apakah putih telur ada rasanya?” Betapa garam itu dibutuhkan selain untuk menyedapkan makanan juga berfungsi untuk kesehatan tubuh. Seseorang yang kekurangan garam yodium misalnya, ia akan menderita penyakit gondok. Seorang yang makan tanpa garam tentu tidak akan mempunyai nafsu makan. Manusia yang selalu makan tanpa garam, lama kelamaan pasti akan merasa lemas dan mungkin juga terjadi kelumpuhan pada tubuhnya. Selain itu garampun dapat mencegah terjadinya kebusukan. Semuanya itu bisa kita tinjau dari sisi jasmani.
Dari sisi rohani kita dapat menarik kesimpulan, tanpa orang-orang benar, tanpa orang-orang yang percaya pada Tuhan, dunia inipun akan menjadi semakin busuk. Keberadaan kita sebagai gereja Tuhan haruslah dapat menjadi garam yang menggarami dunia.
GARAM SEBAGAI PUPUK. Lukas 14:34-35 “Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ía diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuang saja”. Seperti kita ketahui, kita makan dari hasil bumi ini. Kalau dunia ini tidak mempunyai garam lagi di dalam tanahnya, dapat kita bayangkan apakah jadinya dengan tanaman-tanaman yang ada di dunia ini ? Garam merupakan mineral yang ada di dalam tanah yang akan menumbuhkan dan menyuburkan tanaman. Dari segi teori ilmu tumbuh-tumbuhan, tak ada satu pun tumbuhan yang dapat tumbuh tanpa mineral garam di dalam tanah. Jelaslah setiap tumbuhan memerlukan garam yang terkandung di dalam tanah.
Dunia secana rohani mengalami kegersangan rohani. Kalau tanah tidak subur berarti tanah itu gersang. Dunia sekarang dari segi rohani bila tanpa memperhatikan masalah keagamaan sebenarnya dunia ini sudah tak ada artinya. Seperti tadi telah digambarkan: Tanpa garam, makanan tak ada rasa, tanaman tidak bertumbuh. Tanpa ada orang yang percaya kepada Tuhan di dunia ini, maka dunia ini tak ada artinya. Kalau dunia hingga saat ini masih berada pada tempatnya hanyalah karena ditopang keberadaan anak-anak Tuhan sebagai tiang-tiang yang menopang dunia ini.
Sebagai contoh, ketika Allah menghukum Sodom dan Gomora yang saat itu berpenduduk 200.000 orang. Dari jumlah tersebut yang diselamatkan cuma tiga orang yaitu: Lot dan kedua anak perempuannya. Sodom dan Gomora belum dibinasakan selagi orang itu masih berada di dalamnya. Setelah ketiga orang tersebut keluar, baru Tuhan menghukum kota Sodom dan Gomora.
Contoh yang lain yaitu ketika Allah menghukum dunia dengan air bah pada zaman Nuh. Dari sekian banyaknya jumlah penduduk dunia saat itu, yang selamat cuma delapan orang. Setelah delapan orang yang percaya pada Tuhan tersebut masuk dalam bahtera, baru Allah menghukum dunia ini. Tanpa orang percaya, dunia ini tak ada artinya sama sekali.
Peranan kita sebagai gereja adalah sebagai garam. Sehingga membuat dunia sampai saat ini dapat bertahan. Suatu saat ketika kita sebagai orang percaya akan tinggalkan dunia ini. Sehingga tak akan ada lagi garam yang menggarami dunia ini. Akitab mencatat: Kalau garam itu menjadi tawar maka akan dipijak-pijak orang. Hal ini berarti: Antikris akan memijak-mijak dunia ini selama tiga setengah tahun lamanya. Yaitu pada waktu gereja Tuhan sebagai garam dunia telah disingkirkan ke padang belantara. Begitu gerejaTuhan telah keluar dan disingkirkan ke padang belantara, saat itulah dunia dipijak-pijak anitikris!
GARAM SEBAGAI KORBAN PERSEMBAHAN. Imamat 2:13 “Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kau bubuhi garam, janganlah kau lalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajian ini, beserta segala persembahanmu haruslah kau persembahkan garam.
Persembahan yang dibawa bangsa Israel sebagai persembahan makan harus dibubuhi garam. Garam berbicara mengenai persembahan yang asli, persembahan yang sungguh-sungguh. Karena bisa saja seseorang memberi korban kepada Tuhan dengan maksud-maksud yang tidak murni. Dalam Matius 27:34. Ketika Yesus berada di Salib Golgota, seseorang memberi Dia minum “Anggur bercampur empedu”. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya. Anggur bercampur empedu gambaran sesuatu yang manis dicampur yang pahit. Pelayanan yang bercampur baur: di luar mungkin nampak baik-baik tetapi di dalam hati mungkin ada maksud-maksud yang lain. Ini suatu motifasi yang tidak murni. Suatu pelayanan yang tidak asli. Dalam Matius 27:48, saat Yesus masih berada di salib itu, ada pula seseorang yang meriberikan “Anggur asam” lagi-lagi suatu pemberian/pelayanan yang tidak murni. Pelayanan seperti inilah yang merupakan pelayanan yang tidak dimeteraikan dengan garam. Ingat pengabdian kita kepada Tuhan haruslah pengabdian yang tulus. Jangan seperti Simon dari Kirene yang memikul salib Kristus karena terpaksa. Bila kita berbakti, berbaktilah dengan sungguh bukan karena terpaksa. Bila kita ikut menjadi anggota paduan suara atau menjadi guru kebaktian anak-anak/menjadi pelayan Tuhan lakukanlah dengan dasar cinta pada Tuhan. Bukan karena terpaksa! Bila kita mempersembahkan segala sesuatunya dengan hati yang murni dan dengan dasar cinta kepada Tuhan, inilah yang merupakan persembahan yang digarami.
GARAM SEBAGAI KEKUATAN PERJANJIAN. Bilangan 18:19 “Segala persembahan khusus, yakni persembahan kudus yang dipersembahkan orang Israel kepada Tuhan, Aku berikan kepadamu dan kepada anak-anakmu laki-laki dan perempuan bersama-sama dengan engkau itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya. Itulah suatu PERJANJIAN GARAM untuk selama-lamanya di hadapan Tuhan bagimu serta bagi keturunanmu.”
Garam sebagai kekuatan perjanjian laksana meterai. Melambangkan suatu keputusan/keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Misalnya perpuluhan harus diberikan pada jalur yang tepat. Jangan uang perpuluhan lalu diberikan untuk dana pembangunan gereja, dana sosial dan sebagainya. Harus ada beda yang jelas mana yang untuk perpuluhan dan mana yang untuk korban tatangan. Perpuluhan merupakan perjanjian garam yang tidak boleh ditawar-tawar lagi. Hal ini merupakan perjanjian garam. Perjanjian yang Authentik dan termeterai. Sebab itu jangan disalah gunakan. Ingat jangan sampai garam itu menjadi tawar…
I Tawarikh 13:5 “Tidakkah kamu tahu, bahwa Tuhan Allah Israel telah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan suatu perjanjian garam ?“
Perjanjian garam ini berjalan terus dari turunan raja Daud sampai kepada Yesus Kristus. Tentu kita ingat ketika seorang buta berseru kepada Yesus: “Ya Yesus Anak Daud, kasihani lah hamba!“ Padahal kejadian itu terjadi sudah kurang lebih seribu tahun setelah Raja Daud meninggal. Inilah perjanjian garam, takhta Daud yang telah ditetapkan. Kita adalah sebagai generasi selanjutnya dari keturunan Daud ini. Perjanjian garam ini adalah milik kita yang tak dapat diubah-ubah.
Betapa hebatnya kedudukan kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan karena kita dapat menggarami dunia ini. Eksistensi kita di tengah masyarakat adalah keturunan raja di atas segala raja. Allah telah menetapksn suatu perjanjian garam laksana mutu garam yang tidak bisa diubah fungsinya.