Jul
13

“Menjadi Pegawai Raja”, Ringkasan Kotbah

Filed Under (Uncategorized) by gpdi on 13-07-2009
“Menjadi Pegawai Raja”, Ringkasan Khotbah Minggu 10 Agustus 2008

Daniel 1:3-4, Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim.

Pada ayat pertama dikatakan bahwa pada tahun ketiga pemerintahan Yoyakim raja Yehuda, Nebukadnezar raja babel dan pasukannya datang mengepung Yerusalem. Pada waktu itu Israel telah terbagi dua kerajaan: Israel dan Yehuda; nah Yoyakim inidan Kerajaan Yehuda diserahkan Tuhan pada kekuasaan Nebukadnezar.

Sebagai jajahan, semua yang terbaik dari Yehuda diambil, dibawa ke Babel. Tetapi rupanya bukan hanya barang-barang berharga yang diangkut. Sebagai bangsa yang berperang, karena masa itu, Babel memerangi Yehuda memerangi Israel, mereka terus berperang, sehingga Babel kekurangan orang-orang muda yang cakap yang berpotensi. Nebukadnezar ternyata orang pintar, dia suruh bawa beberapa orang Israel yang hebat-hebat. Pilih yang cakap yang berpotensi. Ayat 4 katakan, orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja.

Hari ini kita akan lihat, bagaimana menjadi pegawai raja. Kalau dalam ilmu bayangan, Nebukadnezar ini bayangan Tuhan; Tuhan mencari siapa yang dapat Dia angkat untuk menjadi pegawaiNya.

Waktu di Indonesia, saya lihat -baik sodara-sodara, banyak orang-orang yang mau jadi pegawai negeri. Mama saya itu pegawai negeri, pensiunan guru. Pangkatnya tinggi, saya nggak tahu istilahnya tapi setingkat kepala sekolah SMP/SMA, jadi bukan rendahan saudara. Tapi jadi pegawai negeri kan tidak langsung dapat pangkat tinggi, mulai dari bawah dulu. Ada yang harus masuk ke desa-desa dulu, gaji pangkat naiknya pelan-pelan.. tapi banyak yang mau.. gimana cara, pokoknya jadi pegawai negeri. Kalau sudah jadi.. aman, ada pensiun dan kerja sama pemerintah, bangga.

Itu baru pegawai negeri. Lebih lagi, sekarang Tuhan yang mau mengangkat kita jadi pegawaiNya. Saudara mau jadi pegawainya Tuhan?

Kita lihat ayat 6, Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Atau yang kita tahu Daniel dan sahabat-sahabatnya, Sadrakh, Mesakh, Abednego.

Bagaimana menjadi pegawainya Tuhan. Ada beberapa syarat yang mereka miliki.

Yang pertama, ayat 3: “Mereka berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan”.

Mari kita lihat Yohanes pasal yang pertama.

Kita tahu Abraham dan Daud. Abraham Tuhan pilih untuk jadi bapa semua orang yang percaya. Daud, bukan keturunan raja, tetapi Daud jadi raja Israel yang paling besar dalam sejarah Israel.

Yohanes 1:12, Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.

Sama seperti Abraham dan Daud, dua tokoh ini dari orang biasa, tetapi Tuhan pilih jadi tokoh yang Tuhan pakai luar biasa, begitu juga kita. Kita dipilih bukan karena dari mana kita, siapa kita, tetapi karena kita sudah menjadi anak-anak Alah.

Waktu kita percaya dalam nama Yesus, kita menerima Dia, kita diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. Yohanes 1:13, orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Kalau saudara Tanya bisa jadi anaknya Allah? Bisa. Karena bukan secara jasmani. Bukan karena kita yang mau, tapi Tuhan yang mau… asal engakau percaya. Haleluya saudara?

Kita buka Ibrani 11. Alkitab menujukkan dengan gamblang kenapa Abraham dipilih Tuhan. Ibrani 11:8, Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.

Kita bandingkan dengan Kejadian 12:1, Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Ayat 4, Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya.. Kemana?

Tuhan tidak bilang, ke Sacramento.. di sana ada pendeta Senduk.. ini alamat.. ini telponnya. Abraham berangkat tanpa mengetahui kemana Tuhan suruh dia. Bukan main taatnya Abraham.

Waktu Tuhan suruh, kemana Tuhan?

Pergi saja ke negeri yang ‘akan’ Kutunjukkan kepadamu.

Berarti Tuhan nggak bilang ke mana. Ini saudara, Tuhan mau Abraham taat saja. Kalau kita anak-anak Tuhan, Tuhan mau kita taat.. katakana amin. Waktu Abraham mulai jalan nggak tahu kemana, Tuhan belum kasih tahu tapi dia taat. Besok mau jalan lagi.. Tuhan belum kasih tahu.. tapi dia taat. Sekian waktu lewat.. Tuhan belum kasih tahu, tetapi haleluya Tuhan pelihara dan Abraham taat saja. Sekali lagi, kita percaya sama Tuhan, taat sama Tuhan.. berarti kita jadi anak Raja di atas segala raja.

Wahyu 17:14, Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.

Kalau Yesus Raja, kita adalah anak-anak Raja. Kalau Yesus menang, kita bersama dengan Dia akan menang. Di kayu salib lambungNya ditikam, gereja lahir di sana. Bukan anak murahan kita, saudara, Yesus mati supaya kita hidup. Ini mahal sekali, saya percaya Tuhan pasti memperhatikan kita luar biasa lebih dari seorang ibu memperhatikan anaknya.

Mari kita bangga untuk menjadi pegawainya Tuhan. Syarat pertama kita punya, kita adalah keturunan Raja, kita punya darah Yesus. Mari kita beri tepuk tangan bagi Tuhan.

Kita kembali ke Daniel pasal 1.

Syarat kedua, ayat 4. Ada beberapa syarat.. saya satukan saja sebagai syarat kedua. Daniel 1:4, Yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja

Syarat kedua: “Mereka memiliki setiap potensi atau kecakapan yang membuat mereka berhasil”.

Yang pertama percaya, menerima, taat dalam Tuhan.. otomatis menjadi anak-anak Raja. Yang kedua ini perlu latihan. Tuhan yang kasih, tapi kita musti latih diri kita luar dalam.

Saya beri contoh, beberapa tokoh.

Ishak. Kejadian 26:1, Maka timbullah kelaparan di negeri itu.. Kalau negeri kita kelaparan, kita juga pasti sulit. Tapi Ishak punya yang orang dunia tidak. Ayat 12 dan 13, saya rangkum begini; Maka menaburlah Ishak di tanah itu –tanah yang kering yang orang akan bilang sia-sia.. ndak mungkin- dan dalam tahun itu juga –berarti masih di tahun yang sudah di cap kelaparan, paceklik-ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.

Orang dunia banyak yang kaya, tetapi belum tentu itu berkat dari Tuhan. Ini yang orang dunia tidak miliki. Jadi apa rahasianya Ishak? Rahasianya ada di ayat 24, Lalu pada malam itu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau.

Katakan sama-sama: Tuhan menyertai kita!

Contoh kedua, Yusuf.

Kejadian 39:2, Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.

Yusuf dikatakan ‘seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya’. Kita bisa seperti Yusuf karena rahasianya adalah Tuhan. Sudah anak Raja, Tuhan sertai lagi.

Masih ada waktu ya? Saya ingin ilustrasikan sebagaimana yang dapat kita bayangkan.

Di Jogja, berbeda dengan propinsi yang lain.. di sana ada keraton Jogjakarta, ada rajanya. Raja Jogja ini, Hamengkubuwono, juga selaku gubernur makanya Jogja itu propinsi daerah istimewa. Di propinsi lain ada pemilihan, di Jogja itu tidak. Raja kasultanan sekaligus gubernur. Nah masih di jogja, beberapa kilo dari kraton, saya pernah ke jogja sejak SMP bersama sekolah, ada juga yang disebut kadipaten. Kalau ini jadi wakil gubernur.

Begini. Dari kecil sudah tahu bakal jadi raja, itu pangeran anom, bakal jadi gubernur. Saya tanya saudara, sama tidak dengan anak-anak biasa? Tidak. Sekalipun sekolah bisa sama dengan anak lain, tapi nggak akan pernah sampai di situ saja.. di keraton biar aja si pangeran main pasir… main gundu (kelereng).. ingus penuh di muka… tidak akan saudara.. itu bukan pangeran. Pangeran itu harus ini tadi.. latihan, latihan, latihan. Belajar sejarah, belajar bagaimana bernegara. Kalau di film, latihan pedang, latihan panah, belajar.. belajar..

Kalau pelajaran buat kita.. kita musti memiliki segala sesuatu yang akan membuat kita berhasil di setiap bidang yang kita hadapi. Kita musti memiliki hikmat dari Tuhan. Kita musti bersama-sama selalu dengan Tuhan, dan menjadi pemenang.

Saya akhiri, ‘bagaimana kita menjadi pegawai Raja’. Kita anak Raja, kita perlu penyertaan Tuhan yang membuat kita berhasil.

Amsal 1:1-7, Amsal-amsal Salomo bin Daud, raja Israel, untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda– baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan–untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak. Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Mazmur 1:2-3, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

From Sacramento with Love

Sunday August 17, 2008


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: