Jan
19

Papi_di_som_1_79_san_diego_33Di tahun 1979 Pdt. S.P. Senduk dan beberapa rekan hamba-hamba Tuhan dari Indonesia mengikuti School of Ministry (SOM) di San Diego, California selama enam bulan. SOM merupakan visi yang diberikan Tuhan kepada hambaNya Rev. Dr. Morris Cerullo untuk membangun pasukan tentara Tuhan yang terlatih yang kemudian kembali ke negara mereka masing-masing dan melatih ratusan bahkan ribuan hamba-hamba Tuhan baru yang menjadi pasukan tentara Kristus memenangkan jiwa di setiap sudut muka bumi ini bagi Kristus (God’s Victorious Army).

Oktober 2006 lalu, kunjungan kami ke LA area dan San Diego menjadi perjalanan napak tilas Pdt. Senduk senior ke San Diego setelah lebih dari dua dasawarsa yang lalu pernah tinggal dan dilatih di sana di bawah Morris Cerullo School of Ministry.

Copy_2_of_dscf0222

Copy_2_of_dscf0218Keterangan foto

Pdt. Senduk berfoto di depan hotel El Cortez yang di tahun 1979 menjadi pusat kegiatan SOM.

                     

                      

   

Copy_2_of_dscf0225Copy_2_of_dscf0220Di sekitar hotel El Cortez dan di depan hotel Comfort Inn yang 1979 menjadi wisma pria Pdt. Senduk dan rekan-rekan hamba Tuhan lainnya bersama peserta SOM dari seluruh dunia.

Foto paling atas (b/w): Siswa-siswi SOM 1979 berfoto bersama Rev. Morris Cerullo.

Helpline TV

Kemudian di tanggal 28 Oktober kami tinggalkan San Diego dan kembali ke Los Angeles dimana kami akan mengikuti penyutingan Helpline TV Morris Cerullo.

Penyutingan acara televisi terbaru Morris Cerullo ministry Helpline TV ini berlangsung di CBS Television City, Hollywood-California di ruangan studio yang dinamakan Studio Bob Barker, studio yang menjadi tempat acara kuis The Price is Right yang disiarkan CBS setiap hari (Senin sampai Jumat) acara game show televisi terlama usianya yang tahun ini adalah tahun yang ke-35.

Mengikuti penyutingan suatu acara televisi hal pertama yang membuat kami geleng-geleng kepala ketika kami mencoba menghitung jumlah lampu baik lampu sorot atau lampu warna-warni yang besar-besar dan sangat terang itu, kami sudah kelelahan menghitung secara cepat sampai pada jumlah ratusan dan belum sampai separuh dari keseluruhan lampu-lampu berwatt tinggi yang memenuhi seluruh langit-langit ruangan tersebut. Belum lagi kalau kita mesti bayangkan bagaimana seseorang mengatur lampu-lampu tersebut, kapan menyalakannya dan yang mana. Hanya tentunya ada alat yang canggih atau komputer yang mengatur semua itu.

Masih terheran-heran dengan teknologi-teknologi pertelevisian di dalam studio yang semestinya juga kita orang percaya kuasai untuk kemuliaan Tuhan itu, kami telah diajak menyanyi ‘I Will Worship’ oleh Helpline singers untuk memuji menyembah Tuhan dan berdoa sebelum acara penyutingan dimulai. Dan kemudian Morris Cerullo tampil di panggung studio sebagai awal penyutingan acara Helpline TV. Pdt. Senduk senior mendapat tempat duduk di depan sementara rombangan lain duduk di deretan kedua.

Di dua seri penyutingan Helpline TV yang kami ikuti hari itu Morris Cerullo mewancarai beberapa tamu yang menyaksikan kehidupan dan pelayanan mereka.

Russ Lee, seorang penyanyi rohani yang sebelum bersolo karir dikenal bersama dengan group band Newsong, ternyata di waktu lalu pernah menjadi drug dealer (penjual obat-obat terlarang) selain menggunakan obat-obat tersebut untuk mengisi kekosongan hidup yang ia alami. Setelah ia menemukan dan hidup dekat dengan Tuhan, Russ Lee yang selain sebagai penyanyi sekarang menjadi pendeta muda dan pengkhotbah di gereja lokal, ia terlepas dari obat-obatan dan kehidupan pesta-pora yang menjadi pelampiasannya karena kehampaan hidupnya tanpa Yesus. Malam itu ia berkata memberi semangat kepada audiens baik yang di studio dan yang menonton di rumah, "Hanya Yesus yang sanggup memenuhi kekosongan hidup yang engkau alami. Dengan Yesus ada damai sejahtera."

Russ Lee menyanyikan dua lagu malam itu. Yang pertama sangat familiar di radio-radio Kristen: "I smile when I think about the way You’ve turned my life around. I smile when I think about the happiness in You I’ve found. I’m so amazed at what Your love has done, and when I think the best is yet to come.. I smile!". Lagu riang ini berisi syair indah menyatakan bahwa ‘Yesus tidak sedang hilang bagi kita dan kita sebenarnya tidak perlu untuk menemukan Dia, kita hanya perlu untuk datang kepada Yesus (come to Jesus)’.

Lagu kedua berjudul "Miracles". Ada kejadian lucu (blooper) waktu Russ Lee menyanyikan lagu ini. Sementara musik terus mengalun dan penonton bertepuk tangan mengikuti ketukan, Lee ternyata lupa lirik bait kedua padahal lagu ini ciptaannya sendiri dan ia sudah menyayikannya ratusan (mungkin ribuan kali) sejak masih bersama group band Newsong. Kita jadi ketawa, tetapi bagaimanapun buat saya ini membuktikan ia tidak melakukan lip synch dan suaranya secara live kedengaran tidak jauh berbeda dengan di radio dan cd.

Di sesi penyutingan pertama ini Morris Cerullo juga mengundang kesaksian dari Al Casey seorang musisi dan penulis buku ‘Jesus, hollywood and me’.

Setelah break beberapa menit, penyutingan kedua dimulai dengan menyanyi bersama Helpline singers and bands dengan permainan keyboard Phil Mickelsons. Dan kemudian performance Anthony Evans dengan lagu ‘I Choose Now’.

Menjadi tamu dan memberikan kesaksian di taping kedua adalah Nicky Cruz dan Steve Sjogren. Keduanya memiliki kesaksian yang indah.

Nicky Cruz sebelum mengenal Tuhan adalah seorang pimpinan gang jalanan di New York. Cerita pertobatannya dari seorang pimpinan salah satu gang yang paling ditakuti menjadi pengikut Kristus dari jalanan kota New York telah menjadi kesaksian yang dikenal luas di seluruh dunia melalui buku "The Cross and the Switchblade" dan "Run Baby Run" yang bahkan telah diangkat menjadi kisah sebuah film dan menjadi inspirasi di beberapa program televisi.

Nicky Cruz terlahir di satu keluarga yang terikat okultisme di Puerto Rico. Ayahnya seorang pimpinan agama pemuja setan dan ibunya dikenal orang sebagai tukang sihir/witch. Nicky adalah anak yang ditolak oleh orang tunya dan disebut anak setan oleh orang tuanya sendiri sehingga masa kecilnya tidak pernah merasa ada dalam satu keluarga.

Perasaan memiliki keluarga pertama kali ia alami ketika ia diterima di satu gang jalanan di New York setelah ia dikirim papanya tinggal di New York bersama kakaknya. Dan di lingkungan gang jalanan New York itulah Nicky muda besar menjadi orang yang penuh dengan kebencian kepada semua orang kecuali kepada teman-teman dalam gangnya yang dianggapnya keluarga dan dibelanya mati-matian dan siap membunuh karena mereka.

Ia sangat membenci orang Kristen dan pendeta. Tetapi seorang pendeta datang bersaksi kepadanya dan mengatakan "Jesus loves you". Kasih Kristuslah yang kemudian mengangkat dia dari kehidupan jalanan New York yang penuh kebencian. Ia akhirnya menemukan keluarga yang benar-benar mengasihinya dengan tulus di dalam Tuhan Yesus Kristus yang mengasihinya.

Kesaksian kedua adalah kesaksian dari Steve Sjogren yang di 1985 memulai suatu sidang jemaat di Cincinnati dengan hanya 30-an jemaat dan kemudian menjadi lebih dari 6000 jemaat dalam waktu yang cepat sehingga disebut sebagai gereja dengan pertumbuhan tercepat pada masa itu.

Di tahun 1997 ia mengalami kesalahan penanganan rumah sakit sehingga ia meninggal. Dua kali ia mengalami hal ini yaitu telah dinyatakan meninggal secara medis. Tetapi herannya ia masih hidup sampai hari ini dan sekarang ia sendiri menyebut dirinya "launching pastor" dari gereja yang ia dirikan setelah ia sempat "tinggalkan" (meninggal) dan sekarang banyak menjadi mentor gereja-gereja dalam hal pertumbuhan gereja selain penginjil berbagai tempat di USA.

[Ke 360 GPdI Sacramento klik di sini]

Jan
06
Filed Under (Uncategorized) by gpdi on 06-01-2007

The Sounds of Happy New Year

Masih dalam suasana tahun baru, daftar berikut bagaimana berbagai bahasa di dunia mengucapkan yang orang Indonesia katakan Selamat Tahun Baru.

Arabic: Kul ‘aam u antum salimoun

Brazilian: Boas Festas e Feliz Ano Novo means "Good Parties and Happy New Year"

Chinese: Chu Shen Tan

Czechoslavakia: Scastny Novy Rok

Dutch: Gullukkig Niuw Jaar

Finnish: Onnellista Uutta Vuotta

French: Bonne Annee

German: Prosit Neujahr

Greek: Eftecheezmaenos o Kaenooryos hronos

Hebrew: L’Shannah Tovah Tikatevu

Hindi: Niya Saa Moobaarak

Irish (Gaelic): Bliain nua fe mhaise dhuit

Italian: Buon Capodanno

Khmer: Sua Sdei tfnam tmei

Laotian: Sabai dee pee mai

Polish: Szczesliwego Nowego Roku

Portuguese: Feliz Ano Novo

Russian: S Novim Godom

Serbo-Croatian: Scecna nova godina

Spanish: Feliz Ano Neuvo or Prospero Ano Nuevo

Turkish: Yeni Yiliniz Kutlu Olsun

Vietnamese: Cung-Chuc Tan-Xuan

Auld Lang Syne

Sementara untuk lagu yang paling banyak dinyanyikan di saat pergantian tahun dan selama suasana tahun baru adalah "Auld Lang Syne".

Ditulis oleh Robert Burns di tahun 1741, ‘Auld Lang Syne’ mulai diperkenalkan luas pada tahun 1796 setelah Burns meninggal. "Auld Lang Syne" pada dasarnya berarti "old long ago" atau simpelnya, "the good old days" / "kenangan indah waktu yang lampau".

Auld Lang Syne by Robert Burns

Should auld acquaintance be forgot,
and never brought to mind?
Should auld acquaintance be forgot
and days of auld lang syne?

For auld lang syne, my dear,
For auld lang syne,
We’ll take a cup o’ kindness yet
For auld lang syne

We twa hae run aboot the braes
And pou’d the gowans fine;
we’ve wander’d mony a weary foot
Sin’ auld lang syne

We two hae paidled i’ the burn,
Frae mornin’ sun till dine;
But seas between us braid hae roar’d
Sin’ auld lang syne

And here’s a hand, my trusty friend,
And gie’s a hand o’ thine;
We’ll take a cup o’ kindness yet
For auld lang syne

Should auld acquaintance be forgot,
and never brought to mind?
Should auld acquaintance be forgot
and days of auld lang syne?

For auld lang syne, my dear,
For auld lang syne,
We’ll take a cup o’ kindness yet
For auld lang syne